Filosofi Ilmu Sosial (Philip Gasper)

-) Filosofi ilmu sosial mengetengahkan tentang penafsiran, konfirmasi, penjelasan dan reduksi yang muncul dalam teori sosial. Bagian awal filosofi ilmu sosial ini menguji/membahas tentang berbagai aspek dan isu yang muncul dalam ilmu sosial.

Filosofi Ilmu Sosial menjadi penting karena telah mencatat isu filosofis yang mempunyai urgensi besar bagi berbagai praktisi ilmu sosial.

Dibandingkan dengan ilmu alam, ilmu sosial relatif lebih rentan. Dalam ilmu sosial, ada teori yang bersifat menjelaskan atau memprediksi secara mapan, seperti halnya teori relativitas atau mekanika kuantum dalam ilmu fisika, atau sintesis neo‑Darwinian dalam biologi. Kerentanan tersebut mencerminkan metodologi nilai sosial yang belum mapan, meskipun para sosiolog sudah mencoba mengeliminir kekeliruan metodologinya. Para sosiolog sudah mengemukakan penjelasan yang luas tentang perbedaan IImu sosial dan Ilmu alam. Para sosiolog semakin peka terhadap penemuan‑penemuan sosial ke arah penyimpangan ideologi dan kompleksitas masyarakat. Mereka mengakui bahwa penjelasan secara sistematis terhadap gejala sosial kadang‑kadang menyesatkan diri.Diakui pula bahwa diskusi dan pembahasan tentang isu‑isu sosial memang dirasa masih kurang.

Max Weber, seorang ahli sosiologi dari Jerman pernah menulis tentang metode dalam ilmu sosial. Tulisannya banyak mengupas hasil diskusi yang panjang tentang peran aspek‑aspek non‑ilmiah dan nilai‑nilai ilmu sosial, serta membantah pertanyaan tentang bagaimana fakta ilmu sosial harus dievaluasi. Dalam pandangan Weber, nilai‑nilai sosial merupakan bagian penting dari ilmu sosial. la juga mendukung pentingnya aspek politik dalam ilmu sosial. Menurut Weber, ilmu sosial tidak mungkin lepas dari nilai (value‑freedom).

Sementara itu, dalam, Historical Explanation in the Social Sciences, John Watkins menjelaskan bahwa prinsip‑prinsip metodologi sangat berpengaruh terhadap penelitian‑penelitian ilmiah dalam ilmu sosial. Namun, menurutnya prinsip‑prinsip itu ternyata belum cukup menjamin keberhasilan pengembangan ilmu sosial secara, ilmiah. Dalam hal ini, diperlukan juga aturan‑aturan formal dari suatu lembaga, terutama berkaitan dengan kebutuhan materi untuk mengembangkan ilmu sosial. la juga mengemukakan tentang prinsip metodhological individualism. Prinsip ini menjelaskan bahwa diperlukan bukti‑bukti mendasar untuk menjelaskan tentang gejala‑gejala sosial (seperti inflasi atau tiadanya pengangguran) sehingga diperoleh suatu kesimpulan dari hubungan antar individu. Watkins juga berpendapat bahwa manusia merupakan satu‑satunya agen dalam sejarah dan tidak ada faktor lain yang melebihi manusia biasa di dalam sejarah.

Dalam hal ini, Watkins mengemukakan dua alasan:

Pertama, metodhological individualism tidak melarang pembentukan karakteristik individual.

Kedua, metodhological individualism tidak membuktikan kebenarannya dengan terminologi holisme kemasyarakatan (sociological holism).

Watkins menghubungkan antara prinsip metodologi dengan metodhological individualism. la sepertinya tidak percaya bahwa prinsip metodhological individualism dapat mengenal obyek melalui praduga, tanpa menyembunyikan fakta empiris. Dalam. hal ini, Watkins memanfaatkan dugaan testabilitas. la mengikuti pandangan , bahwa suatu teori dikatakan teruji jika telah dibuktikan dengan bukti‑bukti penelitian empiris. Suatu definisi yang testabel akan menghasilkan teori yang ilmiah jika bisa diuji secara logika dengan berbagai observasi. Pertimbangan tersebut berlaku juga pada prinsip metodhological individualism sebagai konsekuensi dari kepedulian terhadap doktrin empiris. Dari pendapat Watkins dapat disimpulkan bahwa untuk menjawab isu‑isu sosial secara metodologis tidak bisa dijawab dengan praduga saja, namun metodologinya harus mempertimbangkan peraturan dan pengalaman‑pengalaman faktual untuk menjawab isu‑isu masyarakat dan mengembangkan ilmu‑ilmu sosial.

Richard Miller mempertentangkan pandangan tentang metodologi melalui pengujian doktrin yang dibahas oleh Max Weber dan John Watkins dalam tulisan : value freedom and metodhological individualism.

Dengan isu value freedom atau bebas nilai, Miller mengemukakan argumen:

Pertama alasan Weber tentang evaluasi terhadap komponen isi dari penjelasan ilmiah dan pelanggaran atas komitmen yang tidak ilmiah dalam pengakuan kebenaran teori, adalah tidak empiris dan tidak cukup ilmiah. la mendasarkan pada prinsip psikologi sosial, yaitu bahwa kekuatan sosial dapat menciptakan tekanan terhadap suatu teori sosial sehingga jauh dari kebenaran. Sedangkan tekanan balik atau dukungan dari teori sosial akan mampu merubah keadaan yang tetap (status quo)menjadi lebih produktif (ilmiah). Menurut Miller secara hipotesis penjelasan yang terbaik bagi ilmu sosial adalah yang bersifat tidak mengevaluasi.

Kedua, dalam keadaan yang terkait dengan pemantapan teori sosial perlu komitmen untuk melakukan perubahan sosial dalam rangka melawan masyarakat yang konservatif.

Miller juga berpendapat bahwa metodhological individualism dipengaruhi oleh suatu doktrin yang tidak benar dan secara, total tidak masuk akal. Sebenarnya prinsip Watkins bahwa penjelasan‑penjelasan terhadap gejala sosial yang akhirnya harus menuju kepada aspek psikologi, sumber daya dan hubungan antar individu adalah sangat bagus.

Namun, terminologi yang bersifat individu cenderung memberikan penjelasan yang tidak cukup obyektif. Oleh karena itu, Miller berpendapat bahwa dalam metodhological individualism perlu juga mempertimbangkan peran masyarakat empiris yang kompleks

Miller juga mempertimbangkan dua pertanyaan yang merupakan isu umum, yaitu apakah suatu hipotesis dikatakan benar jika diikuti dengan penjelasan yang cukup ? ; apakah suatu hipotesis dapat diterima dengan memecahkan data empiris yang ada ? Berkenaan dengan pertanyaan tersebut, Miller menolak model positivist’s covering‑law dan kriteria pemahaman hermeneutic. Selanjutnya ia juga mendukung tradisi interpretasi yang diambil di antara Dilthey ke Habermas sebagai pemandu dalam memberikan penjelasan sosial.

Uraian akhir dari bagian ini menjelaskan pendapat Peter Railton tentang Marx and Objectivity of Science. Menurut Peter Railton, artikel Weber, Watkins dan Miller membahas tentang isu yang muncul dari suatu pertimbangan usaha untuk memperoleh pengetahuan ilmiah di bawah kendali masyarakat. Sementara itu, dalam pengembangan pengetahuan ilmiah sendiri terdapat institusi sosial yang dapat menjadi pokok penelitian ilmiah. Di sini dikenal sosiologi pengetahuan yang mengarahkan dan membangun lembaga ilmiah dengan mempertimbangkan konteks sosial. Kekuatan lembaga ilmiah ini diharapkan dapat menghasilkan informasi penting dalam penelitian ilmiah. Sebagai sarana ilmu sosial, ia mengusulkan pembongkaran akar ilmu sosial dengan pengembangan ilmiah, obyektif dan netral. Gagasannya ini telah diikuti dari berbagai perspektif, seperti satu tema perjuangan wanita yang mengkritik ilmu pengetahuan.

Satu versi dari sosiologi pengetahuan sering berpikir untuk mengikuti ideologi Marxis , yang mana ideologi tersebut dominan dalam masyarakat. Termasuk gagasan Railton ingin melayani kelompok yang dominan dalam masyarakat, meskipun tidak harus berbau Marxist. Railton menawarkan suatu solusi naturalistik yang ilmiah dan obyektif dengan membawa masyarakat ke arah industri kapitalistis, tanpa mengikis Marxist. Railton melihat kemungkinan kekuatan sosial yang mampu mengendalikan kebenaran, seperti kekuatan sosial yang sedang memutar‑balikkan kebenaran. Untuk mempertahankan analisisnya, Railton menawarkan suatu hipotesis yang obyektif dengan tidak mengesampingkan ketergantungan teori dan metodologi. la juga mempertimbangkan aspek‑aspek sosial yang kontekstual (empiris) untuk menguji hipotesisnya.

Pos ini dipublikasikan di Filasafat Ilmu. Tandai permalink.

2 Balasan ke Filosofi Ilmu Sosial (Philip Gasper)

  1. Rofi berkata:

    dalam keadaan yang terkait dengan pemantapan teori sosial perlu komitmen untuk melakukan perubahan sosial dalam rangka melawan masyarakat yang konservatif<<<<

    << masyarakat konsevatif yg bagaimana? bagi saya ketika keberadaan masyarakat konservatif hadir tanpa sebuah perubahan sosial justru menjadi kekuatan penyeimbang dalam sebuah proses perubahan sosial yg menyimpang..

  2. Qinimain Zain berkata:

    (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Senin, 16 Juni 2008)

    Strategi Ilmu Sosial Milenium III
    (Kadaluarsa Ilmu: Re-Imagining Sociology)
    Oleh: Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. MULANYA teori baru diserang dikatakan tidak masuk akal. Kemudian teori tersebut itu diakui benar, tetapi dianggap remeh. Akhirnya, ketika teori itu sangat penting, para penentang akan segera mengklaim merekalah yang menemukannya (William James).

    KETIKA Dr Heidi Prozesky – sekretaris South African Sociological Association (SASA) meminta TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000) sebagai materi sesi Higher Education and Science Studies pada Konferensi SASA medio 2008 ini, saya tidak terkejut. Paradigma baru The (R)Evolution of Social Science – The New Paradigm Scientific System of Science ini, memang sudah tersebar pada ribuan ilmuwan pada banyak universitas besar di benua Amerika, Afrika, Asia, Eropa dan Australia. Pembicaraan dan pengakuan pentingnya penemuan juga hangat dan mengalir dari mana-mana.

    Contoh, dari sekian banyak masalah telah dipecahkan paradigma ini adalah menjawab debat sengit hingga kini keraguan ilmuwan sosial akan cabang sosiologi sebagai ilmu pengetahuan di berbagai belahan dunia. Tanggal 2-5 Desember 2008 nanti, akan digelar The Annual Conference of The Australian Sociological Association (TASA) 2008 di Australia, dengan tema Re-imagining Sociology. (Judul tema Re-Imagining Sociology, diambil dari judul yang sama buku Steve Fuller (2004), seorang profesor sosiologi dari Universitas Warwick, Inggris).

    Lalu, apa bukti (dan pemecahan re-imagining sociology dalam paradigma TQZ) masalah sosiologi sampai ilmuwan sosial sendiri meragukannya?

    PARADIGMA (ilmu) sosial masih dalam tahap pre-paradigmatik, sebab pengetahuan mengenai manusia tidaklah semudah dalam ilmu alam (Thomas S. Kuhn).

    Ada cara sederhana untuk menjadi ilmuwan menemukan (masalah) penemuan (dan memecahkannya) di bidang apa pun, yaitu meneliti seluruh informasi yang ada di bidang itu sebelumnya dari lama hingga terbaru. (Sebuah cara yang mudah tetapi sangat susah bagi mereka yang tidak berminat atau malas). Mengenai informasi dari buku, menurut Isadore Gilbert Mudge, dari penggunaan buku dibagi dua, yaitu buku dimaksudkan untuk dibaca seluruhnya guna keterangan, dan buku yang dimaksudkan untuk ditengok atau dirujuk guna suatu butir keterangan pasti. Keduanya punya kelebihan masing-masing. Yang pertama luas menyeluruh, yang kedua dalam terbatas hal tertentu.

    Berkaitan menonjolkan kelebihan pertama, Dadang Supardan (2008: 3-4), menyusun buku Pengantar Ilmu Sosial (Sebuah Kajian Pendekatan Struktural), cetakan pertama, Januari 2008, yang mendapat inspirasi pemikiran ilmuwan sosial Jerome S. Bruner, bahwa mata pelajaran apa pun lebih mudah diajarkan (dan dipahami) secara efektif bila struktur (fakta, konsep, generalisasi, dan teori) disiplin ilmu seluruhnya dipelajari lebih dahulu, yaitu lebih komprehensif, mudah mengingat, mengajarkan, dan mengembangkannya.

    KLAIM sah paling umum dan efektif mengajukan paradigma baru adalah memecahkan masalah yang menyebabkan paradigma lama mengalami krisis (Thomas S. Kuhn).

    Lalu, apa hubungannya buku pengangan universitas yang baik ini dengan debat keraguan sosiologi?

    Dadang Supardan (2008:98), mengutip David Popenoe, menjelaskan jika ilmu sosiologi ingin tetap merupakan sebuah ilmu pengetahuan maka harus merupakan suatu ilmu pengetahuan yang jelas nyata (obvious). Dadang mengungkap, ahli sosiologi sering menyatakan bahwa mereka banyak menghabiskan uang untuk menemukan apa yang sebenarnya hampir semua orang telah mengetahuinya. Sosiologi dihadapkan dengan dunia masyarakat yang sebenarnya tidak begitu aneh, di mana orang-orang yang secara umum sudah akrab ataupun mengenal konsep-konsep yang diperkenalkan dalam bidang sosiologi. Sebaliknya, sebagai pembanding, dalam pokok kajian pada kelompok ilmu kealaman adalah sering berada di luar dunia dari pengalaman sehari-hari. Dalam menjawab permasalahan ilmu pengetahuan alam, temuan kajiannya memberikan ungkapan dalam bahasa dan simbol-simbol di mana kebanyakan orang hampir tidak memahaminya atau benar-benar dibawa dalam pengenalan konsep yang benar-benar baru.

    Lalu, inikah bukti kekurangan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan? Ya (salah satunya).

    Sebenarnya sangat jelas lagi, masalah sosiologi ini sudah diungkap Dadang Supardan (2008: 4) sendiri di awal dengan mengutip Bruner pula. Menurut Bruner, terdapat tiga tahapan berpikir seorang pembelajar, yaitu enactive, iconic dan symbolic. Enactive terfokus pada ingatan, lalu iconic pola pikir tidak terbatas pada ruang dan waktu, tetapi seluruh informasi tertangkap karena adanya stimulan, kemudian tingkat symbolic, dapat dianalogikan masa operasi formal menurut Piaget. Dalam tahapan terakhir, siswa (dan siapapun – QZ) sudah mampu berpikir abstrak secara keilmuan pada tingkat yang dapat diandalkan, mengingat sudah mampu berpikir analisis, sintesis dan evaluatif.

    MENOLAK satu paradigma tanpa sekaligus menggantikannya dengan yang lain adalah menolak ilmu pengetahuan itu sendiri (Thomas S. Kuhn).

    Artinya, sosiologi yang dipelajari di sekolah dan universitas tanpa perangkat simbolik selama ini kadaluarsa dan hanya dapat disebut pengetahuan saja. Dan, untuk membuktikan kekurangan sosiologi tak perlu jauh-jauh (meski boleh agar nampak jelas) dengan ilmu kealaman, cukup dengan ilmu pengetahuan mantap masih golongan (ilmu) pengetahuan sosial juga yaitu ilmu ekonomi. Bukankah ilmu ekonomi dianggap ilmu (ratunya golongan ini) karena mencapai tingkat analogi simbolik bahasa ekonomi? (Karena itulah definisi ilmu pengetahuan dalam paradigma baru TQZ bukan kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), tetapi kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur (sistematis), membentuk kaitan terpadu dari kode (symbolic), satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu. Untuk ilmu pengetahuan sosial paradigma milenium ketiga telah saya tetapkan International Code of Nomenclature TQO Employee fungsinya Operation dengan kode O, TQC Supervisor (Control-C), TQS Manager (Service – S), TQI Senior Manager (Information – I) dan Director (Touch – T)).

    Jadi, para ilmuwan sosial, sebenarnya sudah tahu sosiologi yang dipegang selama ini tidak layak disebut sebagai ilmu pengetahuan, meski belum tahu pemecahannya. Lantas, apa pentingnya solusi re-imagining sociology sekarang? Sangat pasti, salah satu cara memahami masyarakat untuk mengatasi krisis dunia (negara, bangsa, daerah, organisasi, usaha dan pribadi) yang semakin kompleks dan buntu selama ini. Dan, bagi lembaga penelitian dan pendidikan baik organisasi dan pribadi harus proaktif berbenah. Adalah fatal dan picik mengajarkan (ilmu) pengetahuan yang (kalau) sudah diketahui kadaluarsa dan salah, di berbagai universitas dan sekolah. Dunia (di berbagai belahan) sudah berubah.

    KALAU teori saya terbukti benar, Jerman akan mengakui saya sebagai seorang Jerman dan Prancis menyatakan saya sebagai warga negara dunia. Tetapi kalau salah, Prancis akan menyebut saya seorang Jerman, dan Jerman menyatakan saya seorang Yahudi (Albert Einstein).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s