Strategi Pengembangan Ilmu

Dalam menentukan strategi pengembangan ilmu dewasaini terdapat adanya tiga macam pendapat.

Pertama, pendapat yang menyatakan bahwa ilmu berkembang dalam otonomi dan tertutup, dalam arti pengaruh konteks dibatasi atau bahkan disingkirkan, “Science for the sake of science only” merupakan semboyan yang didengungkan!

Kedua, pendapat yang menyatakan bahwa ilmu lebur dalam konteks, tidak ­hanya memberikan refleksi, bahkan juga memberikan justifikasi. Dengan ini ilmu, cenderung memasuki kawasan untuk menjadikan dirinya sebagai ideologi.

Ketiga, pendapat yang menya­tukan bahwa ilmu dan konteks saling meresapi dan saling mem­pengaruhi untuk menjaga agar dirinya beserta temuan‑temu­annya tidak terjebak dalam kemiskinan relevansi dan aktualitas­nya. Science for the sake human progres adalah pendiriannya.

Sebagai produk politik yang dijabarkan secara konstitusional dalam GBHN, ditentukan bahwa Iptek selain merupakan asas, fak­tor dominan, juga dinyatakan sebagai sasaran pembangunan. De­ngan demikian bagi kita strategi pernbangunan ilmu pengetahuan (dan teknologi) tidak dapat dilepaskan dari garis politik pemba­ngunan nasional kita yang aktualitasnya seperti berikut ini.

1.Visi dan orientasi filsafatinya haruslah diletakkan pada nilai‑nilaiPancasila sebagai cermin budaya bangsa.

2.Visi dan orientasi praksisnya haruslah diletakkan pada sifat‑sifat teleologis, etis, dan integratif.

Teleologisdalam arti bahwa ilmu pengetahuan sebagai asas pembangunan diarahkan untuk mencapai suatu tujuan (teleos) yaitu ideal sebagaimana digariskan di dalam Pembukaan UUD 1945.

Etis dalam arti bahwa ilmu pengetahuan diterapkan untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia. Bukan manusia yang direkayasa Ilmu, tetapi sebaliknya. Sifat etis ini menuntut pene­rapan i1mu pengetahuan secara bertanggung jawab.

Integratif dalam arti bahwa penerapan Ilmu pengetahuan selain untuk meningkatkan harkat dan martabat manusia atau kualltas SDM, juga dimaksudkan untuk meningkatkan struktur dan kultur masyarakat. Manusia tidak pernah terisolasi, manusia selalu berada dalam, relasi dengan sesama dan lingkungan masyarakatnya. Peningkatan kualitas SDM hanya akan mempunyai arti dan makna apabila terintegrasikan ke dalam masyarakat yang juga ditingkatkan struktur dan kultumya.

Dalam pada itu, sebagaimana dampak pengaruh globalisasi baik positif maupun negatif yang tidak dapat dielakkan, maka tidak dapat dielakkan

Pula adanya urgensi untuk mengembangkan ilmu, t1dak hanya atas dasar metodologi yang dibatasi oleh con­text of Justification, melainkan juga atas dasar heuristik yang bergerak dalam context of discovery.

dikutip dari : (Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM/Koento Wibisono)

 

Pos ini dipublikasikan di Filasafat Ilmu. Tandai permalink.

4 Balasan ke Strategi Pengembangan Ilmu

  1. Ingin bertukar pikiran tentang filsafat ilmu cobalah mengunjungi blog saya di http://meontology.blogdrive.com/

  2. skripsis1 berkata:

    blog yang bagus.. bagi rekan2 yang membutuhkan pertolongan saya buat menyelesaikan skripsi atau tesis nya silahkan hubungin saya di link berikut ini:
    http://skripsis1.wordpress.com/

    trimakasih

  3. Esperanza Chang berkata:

    getuk.wordpress.com’s done it once again. Great read!

  4. Pricillia berkata:

    Terima kasih atas postnya.tgs KWN saya terbantu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s