Model Sukses Jepang

Dari bagan Model Sukses Jepang diketahui semua inputyang masuk dalam perusahaan Jepang yang terbukti kompetitif semuanya tentang Lingkungan (Environment) yang terdiri :

a.Lingkungan Sosiokultural ( Budaya Masyarakat )

b.Lingkungan Bisnis dan Pemerintah (Konjungsi)

c.Lingkungan Domestik berdaya saing

d.Lingkungan Organisasi

Sudah banyak definisi mengenai Aspek Lingkungan dalam manajemen namun dalam hal ini kami kemukakan lagi definisinya Lingkungan Manajemen ditilik dari Logika Matematik :

Lingkungan : boleh dikatakan adalah suatu wahana interaksi kejadian-kejadian bebasyangmempunyaibatas-batastertentu yang diasumsikan terlebih dahulu.

Sedangkan Lingkup Sosiokultural (seperti bagan terlampir) diartikan sebagai interaksi ciri khas kebudayaan dengan sistim pendidikan

Jadi Lingkungan Sosiokultural

Adalah interaksikejadian-kejadian bebas yang ada dalam ciri khas kebudayaan dan kejadian-keajdian bebas dalam sistim pendidikan pada suatu wahana tertentu.

Dalam hal ini ciri khas bisa diartikan dengan sesuatu yang tidak berbeda dari dirinya sendiri , self identikal , bisa dijelaskan bahwa ciri-khas A yaitu untuk segala sesuatu sedemikian rupa sehingga jika dan hanya jika segala sesuatu itu bagian dari ciri-khas maka segala sesuatu itu bagian dari A. (A = kebudayaan,dll)

Kejadian bebas di Indonesia yang mempunyai ciri khas sosiokultural yang kompetitif mengglobal salah satu contohnya adalah budaya Bali. Dari definisi diatas diketahui pulau Bali merupakan Wahana yang terbatas, kejadian-kejadian pendidikan non-formil turun-temurun diterangkan dengan Logika Ancestral merupakan self identikal , unik, mempunyai ciri khas monopolistik karena substitusi identitas non Bali terhadap Bali bisa ditekan , sehingga tidak signifikan mengakibatkan Bali yang berbeda dari Balinya sendiri. Dalam upayanya mencegah substitusi identitas non Bali yang mengarah keHimpunan Kosong yang tidak mempunyai anggota, telah dilakukan contohnya Upacara Nyepi satu hari dimana tidak boleh sama sekali menyalakan api, yang secara metatheorema seperti Jepang yang berusaha melarang barang-barang import masuk Jepang.

Lingkungan Institusi Pemerintahan dan Institusi Bisnis

Jika substitusi adalah memasukkan kejadian-kejadian bebas diantara dua kondisi, maka institusi adalah kejadian-kejadian bebas yang ada dan timbul didalam dirinya sendiri yang merupakan eksistensial kuantifier.

Kejadian antara Pemerintahan dan Bisnis yang berpasangan

(DPU dengan Kontraktor/Gapensi, Kesehatan dan Detailer, Hankam dan Perum Dahana, Depdikbud dengan kalangan industri, dll) juga yang mempunyai Relasi maupun Fungsi. Sedemikian rupa sehingga mempunyai keunggulan kompetitif. Pegawai negeri, siswa sekolah, karyawan, usahawan berinteraksi dengan kejadian bebas disekelilingnya yang self identikal , unik, terkuantifier, ciri khas budaya yang solid tidak mudah disubstitusi pihak luarsemuanya ini menjadi sebuah paradigma .

Secara logika tidaklah sulit mencari pasangan, relasi, dan fungsi himpunan kejadian-kejadian yang merupakan ciri khas budaya seperti contohnya : Laut – biota – nelayan – koperasi – perkreditan – siswa-siswa institut perkapalan – fakultas biologi – tehnik penyehatan – industri instrumentasi – pemerintah daerah – LSM dan seterusnya. Pelajaran-pelajaran mencari pasangan, relasi, fungsi ini secara mudah bisa dijadikan kurikulum sejak TK,SD,SMP nelayan…dst, sekaligus mengalami kejadian-kejadiannya dengan membuktikannya dengan kunjungan lapangan dan menuliskan kesan-kesan yang diperolehnya secara bebas dan logis, jika tidak terlalu bombastis bisa dikatakan brain storming nasional. Apabila kejadian-kejadian sederhana tersebut dihimpun sedikit demi sedikit berakumulasi dan dikuantifikasikan mudah-mudahan inilah jalan salah satu jalan keluar dari krisis yang berkepanjangan. Interaksi Pemerintahan dan Bisnis dalam harmoni logika matematik.

Lingkungan berdaya saing

Interaksi kejadian-kejadian bebasdalam persaingan domestikbila dikuantifikasikan dalam bentuk bilangan-bilangan misalkan berapa jenis produk per tiapperusahaan dengan kategori self identikal dalm satu periode yang sarat relasi dan fungsimempunyai ratio yang semakin lama semakin tinggi (intensitas) , memiliki daya saing karena unik dengan intensitas relasi dan fungsi yang tinggi tidak ada barang substitusinya contoh : teleskop satelit, kepala jembatan sosrobahu, teh sosro, jamu jawa, minyak kayu-putih, rempah-rempah, industri rotansudah pasti kompetitif di bidangnya. Membangun suasana lingkungan berdaya saing ini, dibutuhkan filsafat dasar logika matematika.

Technorati Tags: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Pos ini dipublikasikan di Cerita-Manajemen. Tandai permalink.

10 Balasan ke Model Sukses Jepang

  1. Ocy berkata:

    kaizen termasuk manajemen jepang ga yaa…makasi

  2. denchan berkata:

    Oh gitu to… tq info nya.

  3. Joe berkata:

    kalo boleh nanya, apakah buku ttg competing globaly yang isinya tentang sifat-sifat orang jepang melakukan bisnis?

  4. ridlo anandar berkata:

    ga nemu yang gue cari.gue cari gaya mnajemen jepang

  5. Imam Ghozali berkata:

    kiranya Indonesia bisa mengambil manfaat dari sistem manajemen jepang

  6. iche berkata:

    ntah pa” z pun.
    yg d tnya kn ttg sistemnya kyk mn?
    tp ga ada d bt gmn sistem’a

    gc jlz …………

    tX yaU

  7. sodikin berkata:

    Trim ya artikelnya bgs bgt

  8. Ping balik: social.thematesrate.com

  9. Ping balik: bank repo homes

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s