Kreasi dan Inovasi

Sepeti dikeketahui sebelumnya bahwa ada perbedaan kecil mengenai kreasi yang menyatakan diperoleh tanpa perencanaan dan kreasi menurut taxonomy Bloom, bisa dianalisa bahwa perbedaannya pada pelakunya yaitu oleh umum dikatakan tanpa perencanaan atau oleh dunia pendidikan yang menganut taxonomy Bloom yang terencana. Karena tulisan ini mengarah pada siswa maka kami tinjau metoda memperoleh kreativitas menurut teori Taxonomy Bloom yang sudah direvisi 2001 maka kreasi diperoleh melalui 6 tingkatan kemampuan berturutan yaitu

  1. mengingat berupa kemampuan untuk mempelajari fakta serta mengingat kembali materi-ide-prinsip yang sudah dipelajari,
  2. mengerti berupa kemampuan untuk menjelaskan ide dan konsep,
  3. menerapkan yaitu kemampuan menggunakan materi yang sudah dipelajari dalam situasi baru dan dunia nyata,
  4. menganalisa berupa kemampuan untuk menguraikan materi kedalam bagian-bagian dan melihat hubungannya termasuk klasifikasi analisa dan membedakan bagian-bagian,
  5. menilai berupa kemampuan untuk menyesuaikan keputusan atau serangkaian tindakan,
  6. mengkreasi atau mencipta adalah kemampuan untuk membangkitkan produk baru, ide atau cara pandang terhadap sesuatu.

Namun taxonomy ini tidak memasukkan faktor usia, gender, demografi ataupun kecerdasan. Jadi kreativitas hal ini adalah dalam kaitannya dengan usia siswa yang mempunyai standard kecerdasan tertentu sebab kreativitas tanpa kecerdasan akan kurang bermanfaat. Ada beberapa ukuran kecerdasan : Spearman g (general), Carrol “g” dengan 70 kemampuan khusus, Guilford : wajah-wajah terpelajar (180), Gardner : kecerdasan majemuk serta Sternberg : triarchic. Bilamana kita tinjau pandangan Gardner, Howard (1983; 1993) Frames of Mind: The theory of multiple intelligence,mengungkapkan 8 kecerdasan yaitu kecerdasan dalam bidang : logika matematika, bahasa, musik, spatial, bodilykinesthetic, interpersonal, intrapersonal, naturalsitic.

Latar belakang theory Gardner adalah kecerdasan dipandang sebagai “kapasitas untuk memecahkan permasalahan atau menuju ke produk yang dihargai didalam satu atau lebih pengaturan budaya” .Juga menyatakan bahwa masing-masing kecerdasan mempunyai format persepsi, memori, dan pembelajaran sendiri. Juga percaya bahwa masing-masing kecerdasan mempunyai suatu sejarah pengembangan yang unik.Mempercayai nilai-nilai budaya, perubahan historis, dan mempelajari pengaruh pengaruh peluang dari individu untuk mengembangkan dan menyatakan kekuatan intelektualnya.

Selanjutnya Gardner menerangkan bahwa logika matematika sering dikaitkan dengan pemikiran science dan matematika, yang terdiri dari : kapasitas untuk meneliti permasalahan secara logika, menyelesaikan operasi matematika, menyelidiki isu secara ilmiah, kemampuan untuk mendeteksi pola, kemampuan untuk memberi alasan secara deduktif yang sebagian besar adalah naturalistic.

Selanjutnya menurut Gardner logika matematika ini dapat dikembangkan dikelas dengan menggunakan teknologi multimedia yang inovatif dan menantang, menawarkan peluang untuk berlatih dan mengembangkan ketrampilan berpikir dalam taraf yang lebih tinggi, menggunakan pemecahan masalah dan logika didalam situasi kehidupan nyata.

Logika matematika yang diuraikan oleh Gardner tersebut satu pengarangnya adalah Quine, Willard van Orman ( 1958), “ Mathematical Logic” yang dalam kata pengantarnya menyebutkan :

“The passage from non‑mathematical, non‑philosophical common sense to the first technicalities of mathematical logic is thus but a step, quicklytaken. Once within the field, moreover, one need not to travel to its farther end to reach a frontier; the field is itself a frontier, andinvestigators are active over much of its length. Even within an introductory exposition there is room for novelties which may not be devoid of interest to the specialist. “( Quine , 1958 : page v )

Dari uraian dalam kata pengantar ini maka diasumsikan bahwa logika matematika mempunyai kapasitas untuk mewujudkan kreativitas menurut taxonomy Bloom serta pandangan kecerdasan Gardner diatas serta bermanfaat terhadap standard pembuatan definisi, teorema, meta-teorema dan prinsip-prinsip filsafat logika matematikanya Quine sehingga diperoleh kecerdasannya Gardner yang selanjutnya dihubungkan dengan pendidikan di Nusantara ini.

Dalam mengelola proses inovasi beberapa sudut pandang dikemukakan meliputi : sudut pandang- sudut pandang dispersi geografis,jaringan inter organisasi, fitur organisasi, organisasi pembelajaran, perubahan pasar, standarisasi , paten, open source, komunikasi teknik, serta fungsionalitas silang.

Seperti yang dikemukakan sebelumnya bahwa inovasi dibedakan dengan penemuan atas dasar kebutuhan untuk mencapainya. Untuk memperoleh penemuan dibutuhkan kreativitas sedangkan inovasi diperoleh melalui perencanaan yang didorong oleh pergeseran pasar berupa penyempurnaan produk, produksi dan distribusi.Dari beberapa penulisan maka arsitektur inovasi dibutuhkan karena kegagalan perusahaan yang sudah mapan.

Arsitektur inovasi adalah konfigurasi ulang suatu produk teknologi yang ada dimana konfigurasinya tidak secara incremental atau radikal, namun perubahan arsitektur produk tanpa perubahan komponen. (Henderson & Clark, 1990). Penulisan yang lain menyebutkan bahwa inovasi teknologi radikal adalah teknologi yang menyerang dan sering memporak porandakan teknologi yang sudah mapan ( Utterback, 1994) yang memunculkan kurva S dimana perkembangan yang lambat pada awalnya, dan percepatan dengan disain yang dominan, dan melambat lagi sebagai upaya bergeser pada teknologi baru.

Perubahan siklus teknologi selaras dengan kemajuan teknologi yang bergantung pada diskontinuitas dan kemunculan disain yang dominan menimbulkan penghancuran kreatif (kemajuan fundamental ke kemajuan kapitalis – Schumpeter), penghancuran kompetensi (pengetahuan yang ada menjadi usang, menghapuskan penguasaan yang lebih tua) (Anderson & Tushman, 1991) . Pendapat bahwa inovasi sebagai keunggulan penyerang menerangkan bahwa kurva S adalah pembelajaran yang diikuti diminishing returns yang terus berulang, sebagai contoh jam saku, maka dibutuhkan alat peramalan ( dengan memasukkan analisa usaha kompetitif dan hasil yang telah dicapai) ( Foster,1986).

Christensen, 1992 menyelidiki eksplorasi terhadap batas dari tekhnologi kurva S lebih dapat diaplikasikan pada tingkat industri daripada tingkat perusahaan, hubungan sebab akibat terjadi bila kekurangan kemajuan teknologi mungkin sebagai hasilnya, daripada penyebab, dari satu peramalan bahwa teknologi sedang mencapai kematangan, komponen inovasinya menyerang perusahaan mempunyai kerugian dengan komponen baru.

Kesimpulan sementara :

  1. Kreativitas dipandang dari pandangan habitus adalah spontan.
  2. Kreativitas menurut taxonomy Bloom adalah terencana.
  3. Logika Matematika ada pada ranking pertama Kecerdasan Manusia (Howard Gardner,2001)
  4. Logika Matematika yang diperlakukan dengan taxonomy Bloom dapat membangkitkan kreasi dan inovasi.
  5. Inovasi adalah terencana dan memegang peranan kunci dalam Manajemen.
  6. Kecerdasan Manusia adalah juga Kecerdasan Rakyat yang sangat dibutuhkan.

Technorati Tags: , ,  

Pos ini dipublikasikan di Sumber Daya Manusia. Tandai permalink.

3 Balasan ke Kreasi dan Inovasi

  1. chandra berkata:

    saya ingin tahu lebih jelas lagi tentang manajemen inovasi.
    bisa kah anda membantu saya. saya mohon dngan sangat.

  2. abdy erka berkata:

    wah boleh juga infonya…
    buat pelajaran mengenai inovasi di kampus

    kunjungi blog ku kalau sempat

    http://www.abdyerka.blogspot.com

    terima kasih

  3. Ping balik: Arti kupu kupu di patung Barack Obama | rekanpenulis.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s